Dua Jiwa Yang Berbagi Jalan

Nadia melihat bayangan dirinya di cermin. Malam ini bukan malam biasa yang dihabiskannya untuk membaca atau browsing internet di dalam kamar. Malam ini bukan pula malam untuk mendengarkan musik keras-keras yang menempel ketat melalui headset di telinganya. Malam ini dia akan mengobrol di teras depan. Istimewa. Karena dia akan mengobrol bersama Nega.

Dirapikannya warna nude pada bibirnya menggunakan tisu. Sebenarnya warnanya sangat lembut dan terasa ringan. Tetapi Nadia tak urung merasa kurang pede dengan riasan smoked eyes nya. “Terlalu mencolok,” pikirnya.

Dia berencana hendak menghapusnya ketika tiba-tiba didengarnya, “Nadiaa, ada yang mencarimu.” Suara Ibu. Pasti Nega.  Dia mulai panik. Hendak buru-buru keluar atau menghapus riasannya terlebih dahulu. Akhirnya dia memilih yang pertama dengan pertimbangan, lipstik warna nude dan riasan smoked eyes tak akan terlalu memalukan untuk menghadapi Nega pertama kali di teras depannya.

Nadia tersenyum. Lega juga dia melihat Nega mengenakan kemeja yang dipadu dengan jins warna gelap. Cukup serius untuk sekedar ngobrol di teras tetapi sepadan dengan riasan matanya. Wajah Nega memerah sesaat melihat senyum Nadia.

“Aku datang lebih awal karena…agar…maksudku,” panik Nega mendengar kata-katanya sendiri yang tak beraturan, “Supaya aku lebih lama bersamamu, kurasa.” Dihembuskannya nafas lega setelah kalimat itu berakhir seolah salah satu beban telah terangkat. Kini ganti Nadia yang merasa ada api menyala ringan menyentuh pipinya. Anehnya rasa panas dipipinya menimbulkan rasa sejuk yang menjelajah hingga ke sudut-sudut hatinya dan membuatnya merasa tenteram.

Nadia memilih kursi tepat di depan Nega.

“Kamu cantik, Nad,” lembut ucapan Nega.

“Mungkin karena lampu teras remang-remang,” jawab Nadia sekenanya.

Nega tersenyum. “Aku tetap menganggapmu cantik saat pagi dan siang di sekolah tetapi mungkin kamu juga benar bahwa saat ini efek cahaya ikut berpengaruh.”

Nadia tertawa mendengarnya. Nega juga tertawa. Tiba-tiba saja suasana jadi lebih mencair karenanya. Nadia jadi berpikir, barangkali dia tak perlu terlalu gugup menghadapi Nega. Nega pun berpikir, barangkali Nadia memang butuh suasana lebih santai seperti di teras rumah untuk tertawa.

***

Pertama kali Nega bertemu dengan Nadia adalah saat ujian akhir semester. Bangku ujian disusun berdasar nomor absen dan kelas dua duduk bersebelahan dengan kelas satu. Mata pelajaran yang sama dengan soal yang berbeda. Nadia duduk di bangku paling kiri pada urutan ketiga, Nega duduk dibangku belakangnya.

Saat itu Muad teman sekelas Nadia mencolek lengan kanan cewek itu sambil berbisik, “32 apa?”

Nadia tak menanggapinya.

Tangan Muad kembali terulur. Tak puas mencolek diapun meremas ringan lengan Nadia, “Kalau 15?”

Nadia menepis dengan gusar. Dengan tak sabar dia berdiri dan melotot ke arah Muad. Tak puas dengan melotot saja, Nadia berteriak lantang, “Jangan pegang-pegang! Tahu!”

Seisi kelas meledak tertawa tiba-tiba mengejek kesialan Muad. Wajah Muad merah seketika begitupun dengan Nadia. Tapi pada detik itu juga Nega terpana. Wajah merah padam Nadia dan matanya yang masih melotot marah ke arah Muad menimbulkan perasaan asing dalam dirinya. Seperti batu besar yang dihantamkan berulang untuk menghancurkan sebutir intan. Hatinya penasaran. Di mata Nega, Nadia terlihat begitu cantik saat sedang membela diri.

Tetapi untuk berkenalan tentu saja tak semudah yang dibayangkan oleh Nega. Berkali-kali Nega mengatur sejumlah kalimat dalam kepalanya, “Hai, aku Nega. Kamu?” atau, “Kenalan dong” atau, “Aku tahu namamu Nadia tapi kamu belum tahu namaku kan?”

Sialnya semua terdengar konyol apalagi ketika dia memikirkannya dengan mata terpejam. Apa yang ada dalam benaknya semua sudah dicoba oleh yang lain tetapi Nadia tak menganggap penting semua yang berbau ‘cari muka’. Nega tak berani berucap sepatah katapun untuk sekedar menyapa Nadia karena cewek itu selalu berjalan dengan tatapan lurus yang angkuh yang terbaca oleh Nega sebagai Nadia –jangan tegur aku—Arsita. Secantik itu dengan nama tengah seperti itu, mana berani Nega menegurnya?

Saat semua  kemungkinan terlihat tak memungkinkan untuk sekedar dicoba sekalipun, tiba-tiba Nadia mendekat padanya seusai ujian hari terakhir, saat itu Nega sedang duduk di tepi lapangan basket sambil menengadah memandang hamparan langit, dan dia tersenyum tipis.

Tanpa bertanya atau meminta ijin, Nadia duduk disampingnya dan berkata, “Jika sedang memandang langit apa yang sedang kau pikirkan, Nega?” Hati Nega berdegup. Pikirannya terbelah dua antara ingin segera menjawab atau bertanya ge-er terlebih dahulu untuk mencari tahu bagaimana Nadia bisa tahu namanya. Dia memutuskan hal lain, yaitu mencari jawaban yang dia pikir dapat membuat Nadia terkesan. Sayang jawaban itu tak kunjung ditemukannya. Lemot! Makinya pada dirinya sendiri. “Luas mungkin.” Jawaban bodoh! makinya lagi. Ini satu-satunya kesempatan untuk berbicara dan dia menjawab dengan kata ‘luas’. Memangnya dia menanyakan ukuran empang Haji Yadi?

“Kalau aku, aku selalu menganggap langit adalah kebebasan.” Nadia menerawang ke atas. “Aku sering merasa ingin pergi kesana,” bisiknya.

Lalu seperti tersadar pada sesuatu dia berdiri dan mengibaskan roknya yang terkena debu lapangan. “Oh, ya, terimakasih.”

Nega mengernyitkan dahi, “Untuk apa?”

Nadia tersenyum, “Karena tidak menyapaku seperti yang lain. Hatiku selalu tak enak jika disapa berlebihan. Kaulah satu-satunya yang tak melakukannya.” Lalu diulurkannya segulung kertas kecil. Nega membukanya, melihat sekilas gambar kelinci tersenyum di sudut kanan bawah dan membaca tulisan tangan Nadia. Jam 7 malam di teras depan rumahku, Jalan Munggur 43. Ini undangan. Undangan dari Nadia. Hore! Hore! Yes! Dia ingin melompat-lompat di tepi lapangan tetapi hatinya membentak keras-keras agar dia lebih menahan diri.

Nadia bergegas melangkah pergi. “Nanti malam aku pasti datang,” katanya pelan. Nadia menoleh sekilas menatap lembut mata Nega, meninggalkan senyum tipis pada cowok itu dan tak menoleh lagi.

***

Archet duduk di depan toilet puteri di seberang kantin. Karena jam pulang sekolah telah cukup lama maka tak ada seorangpun tampak disana. Dinyalakannya sebatang rokok mentol dan dihisapnya dalam-dalam. Sesaat kemudian dihembuskannya asap rokok perlahan. Dahi cewek itu berkerut karena beban pikiran yang dirasanya cukup mengganggu. Dia memikirkan Nadia. Nadia yang terlalu lemah, perasa, dan lembut. Dia sudah membahas hal ini berkali-kali dengan Nadia.

“Aku tak mau sesuatu yang buruk menimpamu lagi Nadia. Bukankah kita telah memutuskan bahwa tak ada seorangpun laki-laki di dunia ini yang bisa dipercaya. Bahkan laki-laki yang telah kita anggap sebagai ayah kita sendiripun tidak!”

Nadia kelihatan tak suka mendengar nada suara Archet yang mulai mengkritiknya, “Jangan terlalu usil. Aku sudah menuruti saranmu untuk menjaga jarak dengan semua cowok-cowok disekolah ini. Puas?” keras suaranya meski tak sekeras Archet.

Archet memang keras kepala. Dia adalah tipe angin yang datang dan pergi sesuka yang dimauinya, tak suka diatur dan diberi saran. Archet selalu mengangap dirinya lebih kuat dari siapapun terutama dari Nadia. Nadia harus mengalah karena dialah yang bisa melindungi Nadia. “Kau memberikan alamat rumah kita pada cowok itu.” sinis suara Archet terdengar.

Nadia melotot, “Dia lain Chet, dia lain. Cowok itu punya nama. Nega. Aku lebih suka kau juga menyebut namanya dengan benar. Nanti malam aku akan menemuinya dan aku tak suka kau menggangguku. Mengerti?” Gemetar suara Nadia. Selama ini dia memang menghindar berselisih paham dengan Archet. Keras kepala dan kalimatnya yang terkadang kasar hampir selalu membuat Nadia menangis. Dia sulit melawan Archet.

Archet menghela napas dengan sedih, “Nadia, ingatkah kamu hari ketika ayah meninggalkan ibu dan pergi dari rumah? Lalu ingatkah kamu hari ketika Om Handi datang untuk menjadi bapak tiri kita? Lalu ingatkah kamu hari ketika…”

“Aku tak mau mendengar lagi!” bentak Nadia sambil melotot tajam, tapi tak urung suaranya bergetar juga.

Archet meradang seketika. Dia berdiri dan balas membentak Nadia, “Kau harus mendengar! Karena saat Om Handi memaksamu waktu itu tak ada ibu yang bisa membelamu dan tak ada aku yang bisa melindungimu. Itulah yang membuat semua itu terjadi. Karena kau lemah Nadia! Kau tak mampu menjaga dirimu sendiri! Dan kau akan mengulang hal yang sama? Ayo katakan padaku. Jawab!!!” Nadia terpaku nanar. Matanya berkaca-kaca dan seketika itu juga dia berlari pulang tanpa menunggu Archet lagi.

Archet sangat terpukul. Sama terpukulnya dengan Nadia. Selama ini dia hanya berusaha melindungi Nadia. Nadia tak bisa mengandalkan Ibu untuk membelanya. Saat Om Handi memperkosanya dan Nadia mengadu pada Ibu, Ibu tak segera percaya. Ibu justru memukuli Nadia dengan gagang pel sekuat tenaga. Gagang pel dari kayu itu patah dan Nadia tersungkur dengan punggung memar dan tulang terasa remuk. Lebih dari itu Nadia sangat hancur dengan serpihan hati tersebar kemana-mana. Saat air mata Nadia telah mengering, Archet datang menawarkan bantuan. Dia menghibur Nadia dan memeluknya persis seperti yang Nadia inginkan. Archet satu-satunya yang mempercayai ceritanya. “Aku juga turut melihat kejadian itu diam-diam, Nadia. Akulah saksinya,” bisiknya saat itu. Archet yang dengan keras berkata sekali lagi pada ibu ketika Om Handi ada. Sehingga dari pembelaan diri Om Handi yang tak meyakinkan, ibu langsung tahu kalau Om Handi suaminya, ayah tiri anaknya, telah berdusta. Nadia benar.

Ibu menangis dan mengusir Om Handi saat itu. Mereka bercerai tak lama kemudian dan dengan cepat Om Handi pergi dari kehidupan mereka. Tetapi bagi Nadia, luka yang tersisa hidup berkedut bagaikan monster selamanya dalam jiwanya. Archet tahu persis akan hal itu. Itulah sebabnya dia tak membiarkan Nadia sendirian mulai sekarang. Nadia terlalu lemah dan tak bisa melindungi diri sendiri. Tetapi dia bisa. Archet mampu melakukannya.

***

Malam itu sempurna bagi Nadia. Dia senang Nega tak selalu memandangnya lekat-lekat dan mengucapkan hal-hal konyol. Dia lega karena Nega memilih topik pembicaraan tentang banyak novel, tentang film, tentang masa kecilnya. Paling tidak dia bisa membuktikan pada Archet bahwa cowok yang satu ini memang berbeda. Nega bahkan tak berusaha duduk disebelahnya sama sekali. Tatapannya menggetarkan hati justru karena sejuk dan tak menjelajahi. Mereka tertawa lepas karena hal yang sama. Baru kali ini Nadia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang bertekad mempertahankan perasaannya. Sepertinya dia menyukai Nega. Archet harus mengetahui hal ini supaya dia tak terlalu mengkhawatirkan dirinya. Nega tak akan berbuat sesuatu yang akan mencelakakan dirinya. Tak seperti Om Handi.

“Aku senang mengobrol denganmu malam ini,” Nadia kali ini berusaha menatap mata Nega sambil tersenyum.

Wajah Nega sedikit memerah, “Yah, aku juga.” Dia kelihatan menimbang-nimbang ingin mengatakan sesuatu. Nadia menunggu. “Aku sangat menyukaimu, Nadia. Aku menyukai dirimu yang mandiri dan mampu melindungi diri sendiri. Kukira tadinya kamu sangat galak tapi ternyata tidak. Kamu sangat lembut dan perasa tetapi sekaligus tangguh saat dirimu sendiri memerlukannya. Kamu pasti ingat betapa malunya Muad saat kamu membentaknya saat ujian,” Nega tersenyum geli mengingatnya.

Nadia terlihat bingung, “Aku membentak Muad? Kenapa? Kapan?” Nega mengerutkan dahi dan memandang Nadia dengan bingung, “Yah, saat itu Muad bertanya jawaban ujian padamu. Tapi…tapi dia mencolekmu juga dan kamu langsung berdiri dan membentaknya di depan kelas,” jawabnya ragu-ragu. Nega tak yakin Nadia bisa melupakan kejadian itu dengan sangat cepat. “Aku…aku benar-benar tak ingat. Sungguh,” ujarnya gugup.

Tiba-tiba Archet muncul di hadapan mereka dan memotong pembicaraan, “Tentu saja Nadia tak mengingatnya. Saat tangan Muad mulai tak sopan akulah yang membentaknya. Biar dia tahu rasa,” Archet dengan ketus melotot ke arah Nega, “Aku juga akan berbuat hal yang sama jika kamu mulai kurang ajar pada Nadia.”

Nadia terlihat serba salah tetapi Archet segera menukas, “Dan kamu tertarik dengan Nadia karena dia begitu tegas dan mampu melindungi dirinya sendiri? Hah! Itu artinya akulah yang kau cintai, Nega. Dan bukan Nadia.”

Nadia kelihatan sangat pucat, “Hentikan sekarang, Archet. Cukup,” katanya. Archet terdiam tetapi wajahnya mengeras.

Nega benar-benar shock sekarang, “Lebih baik aku pulang sekarang. Istirahatlah Nadia, kau terlihat sangat lelah,” katanya dengan suara bergetar. Lalu dia keluar halaman dan mulai menyalakan mesin sepeda motornya. Dikenakannya helmnya dan pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Nadia dan Archet di teras depan.

***

Nega tidur telentang di atas tempat tidurnya. Di sebelahnya tertumpuk jurnal-jurnal psikologi dan beberapa buku yang menjelaskan tentang skizophrenia. Malam itu sambil memandang langit-langit kamarnya Nega mulai merangkai peristiwa demi peristiwa. Nadia yang dikenalnya terkadang memiliki tatapan lembut dan sifat periang. Dia begitu murah hati dan mudah memaafkan. Sayang dia kadang-kadang terlihat terlalu lemah. Tetapi akhir-akhir ini, dia melihat sosok Nadia dengan sedikit berbeda. Nadia lebih mandiri, tangguh, dan tak mudah menyerah. Sedikit galak dan sombong memang, tetapi benar-benar perpaduan yang membuat hati Nega tergelitik.

Tetapi setelah kejadian tadi, rasanya dia akan memilih mundur. Dia tak akan mendekat dahulu pada Nadia hingga batas waktu yang tak terhingga. Mungkin dia memang cowok pengecut, tetapi dia tahu diri untuk mundur sekarang. Dia belum siap menghadapi seorang gadis dengan dua sisi kepribadian. Kepribadian ganda. Dia tak akan sanggup. Lalu dia memejamkan mata. Berusaha mengusir bayangan Nadia dari pelupuk matanya. Air mata menetes perlahan dari kelopaknya yang terpejam. Dirinya merasa sangat tak berguna karena tak memiliki kemampuan apapun untuk menolong Nadia.

***

“Kamu dengar sendiri tadi Nadia, dia lebih memilih aku daripada kamu. Dia lebih suka cewek tegas dan mandiri. Bukan yang lemah seperti kamu. Barangkali kamu harus merelakan Nega untuk aku. Mulai sekarang kamu jangan pernah muncul jika Nega ada di dekatku. Aku akan lebih banyak muncul. Barangkali aku akan menyakitinya jika dia tak mencintai aku dengan sepantasnya!” Archet tertawa terbahak-bahak.

Nadia menangis tersedu-sedu di tengah lengkingan tawa Archet. Hatinya berperang melawan patah hatinya pada Nega dan perasaan ingin menyakiti Nega jika tak membalas cintanya.

Nadia masih menangis dan tertawa di saat yang bersamaan. Ditatapnya bayangan dirinya di cermin. Selama ini cermin itu menjadi saksi atas percakapannya dengan Archet atau percakapan Archet dan dirinya. Dia tahu bahwa mereka berdua menjadi satu dalam tubuh Nadia Arsita, tetapi dia tak bisa menolaknya. Dia membutuhkan Archet. Sangat membutuhkannya.

 

 

(pernah dimuat di Majalah Say)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s