Dika dan Penjual Es Krim

Di jalan Kenanga di bawah rerimbunan pohon beringin, sebuah warung mobil bergambar es krim dengan warna-warna yang cerah selalu mangkal disana setiap hari mulai jam 9 pagi hingga jam 7 malam. Bagian samping mobil yang juga menjadi bagian depan warung bertuliskan FLAVOURISTA. Es krim Flavourista sangat enak. Campuran susu dan gulanya pas bersatu dengan rasa dingin yang melumer perlahan di lidah. Meski begitu warung es krim ini tak begitu laris. Orang yang datang adalah pelanggan yang biasa mampir dan orang-orang yang kebetuan lewat dan membeli. Mereka lebih suka membeli es krim bikinan pabrik karena harganya lebih murah.

Sepulang sekolah Dika selalu mampir kesana dan membeli salah satu dari tiga rasa yang tersedia. Vanila, strawberi, coklat. Tetapi tak seperti yang lain, setelah menikmati es krimnya dia duduk untuk mengamati es krim apa yang dibeli oleh anak-anak lain.

“Yang paling laris strawberi ya Pak Hedi?” tanya Dika melongok wadah yang hampir kosong.

“Ya, Dika. Hampir semua suka rasa strawberi karena ada serpihan buah strawberi di dalam adonannya.”

“Pak Hedi juga menaruh coklat chip di dalam es krim coklat,” balas Dika.

“Tetapi mungkin rasa buah lebih segar,” jawab Pak Hedi sambil melirik wadah berisi es krim vanila yang masih separuh lebih.

“Kenapa hanya ada tiga rasa es krim Pak?” tanya Dika tiba-tiba dengan penasaran. Pak Hedi mengangguk, “Dari dulu memang begini. Pak Hedi hanya meneruskan usaha orang tua. Resepnya turun temurun dan hanya tiga rasa ini. Dahulu kakek Pak Hedi bahkan bisa membuka restoran tetapi masa-masa itu sudah berlalu,” kenang Pak Hedi.

“Kenapa Pak Hedi tidak menciptakan es krim rasa baru? Agar pilihan semakin banyak. Es krim buatan pabrik saja ada yang berani memasukkan jelli di dalamnya. Enak sekali, Pak,” usul Dika. Pak Hedi tersenyum sambil memandangi pipi Dika yang gemuk bulat.

“Kamu benar-benar penggemar es krim ya?” goda Pak Hedi, “Wah—Bapak tidak berani karena takut tidak laku. Dengan resep yang turun temurun saja dan jumlah yang sedikit dagangan tak pernah habis,” jawabnya. “Kalau keadaannya begini terus bapak terpaksa harus menutup usaha ini dan mobil ini akan bapak pakai untuk menjual pakaian keliling kampung,” lanjut Pak Hedi menerawang sedih.

Di rumah Dika berpikir keras. Dia sangat menyukai es krim Flavourista. Susu yang segar dan adonan yang berganti setiap hari adalah jaminan kesehatan yang sulit didapat di jaman sekarang.Sayang sekali Dia sama sekali tak tahu bagaimana cara membuat es krim. Tetapi di rumah Ibu selalu mencampur rasa puding dan campuran Ibu selalu aneh tetapi rasanya enak. Dika hampir yakin sebenarnya bahwa rasa puding yang enak pasti bisa diterapkan juga sebagai rasa es krim istimewa.

“Untuk apa kau minta dibuatkan puding banyak-banyak, Dika?” tanya Ibu heran. Lalu Dikapun menceritakan kesulitan Pak Hedi.

“Dika tahu di dunia ini Ibulah orang bertangan ajaib yang Dika kenal. Barangkali kalau Pak Hedi merasakan puding Ibu dia bisa mencoba meracik rasa yang pas untuk es krimnya,” Dika memohon dengan manis. Ibupun segera saja tak keberatan membuat empat rasa sekaligus, Kelapa Pandan, Jeruk Yogurt, Sirsak Karamel, dan Alpukat Kopi. Dika sangat takjub melihat hasil karya Ibunya.

Pak Hedipun sama takjubnya. Dicicipinya satu persatu puding buatan Ibu dengan sendok kecil. Setiap kali sesendok puding masuk ke mulutnya dia memejamkan mata seolah sedang membayangkan sesuatu. Selesai dengan empat rasa yang dibawa Dika, Pak Hedi menghembuskan nafasnya dan berkata, “Dika, kurasa ini bisa menjadi es krim yang sangat enak.” Dika bersorak kegirangan dan Pak Hedi terlihat sangat bersemangat dan ingin segera mencoba mengolahnya menjadi adonan es krim yang tepat.

Akibatnya selama berhari-hari Jalan Kenanga terlihat sepi tanpa kehadiran mobil es krim Flavourista. Dika menjadi gelisah. Sayang sekali dia tak pernah tahu dimana Pak Hedi tinggal. Selama bertahun-tahun dia hanya mengenal Pak Hedi dan es krimnya tanpa tahu apa-apa lagi mengenainya. Karenanya Dika tak tahu dimana dia harus mencari Pak Hedi. Setelah satu minggu berlalu tanpa kehadiran mobil Flavourista di Jalan Kenanga, Dika mengira Pak Hedi sudah berjualan pakaian keliling seperti yang direncanakannya. Hati Dika sangat sedih.

Siang itu sepulang sekolah Dika duduk di bawah pohon beringin sambil melamun. Dipandanginya tempat mobil Flavourista biasa diparkir dengan perasaan tak menentu. Saat hari semakin siang dan dia memutuskan untuk pulang, tiba-tiba didengarnya derum mesin mobil mendekat. Matanya terbelalak. Mobil Flavourista berhenti dengan anggun dengan tampilan baru berupa tambahan stiker bergambar empat buah es krim yang kelihatannya sangat menggiurkan.

Pak Hedi melompat dari dalam sambil tersenyum lebar. “Maaf terlambat, tetapi besok Flavourista bisa mulai tepat waktu seperti biasa.”

Dika menghambur ke arah mobil. “Berhasilkah, Pak?” tanyanya ragu. Pak Hedi mengerutkan kening, “Tentu saja, Dika. Aku ini penjual es krim sejati”. Dika menjerit kegirangan. “Dan rasanya tak ada bandingannya,” seru Pak Hedi bangga.

Karena rasa baru ditambah penampilan yang modern, es krim Flavourista dapat menambah jumlah pembeli. Tak sampai pukul 5 sore, mobil Pak Hedi sudah pulang dengan es krim tak bersisa.

“Apa yang paling laris, Pak?” tanya Dika ingin tahu. Pak Hedi tersenyum lebar, “Aku tak tahu karena semuanya selalu habis bersamaan,” katanya sambil mengulurkan es krim dalam gelas paling besar ke arah Dika.

 

(Pernah dimuat di majalah Kreatif No 1 tahun 2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s