Bukan Perangko-Perangko Gea

“Wow,” Gea terbelalak mengagumi koleksi Hanna. Hanna tersenyum sambil menyentuh penghapus-penghapusnya dengan hati-hati. Hanna mengoleksi penghapus berbagai macam bentuk sejak 3 tahun yang lalu.

“Ada berapa jumlah seluruh penghapusmu?” tanya Gea.

“Sekitar lima ratus buah,” Hanna tersenyum.

Gea semakin kagum mendengarnya. “Bentuknya lucu-lucu sekali”, pujinya.

Hanna mengangguk, “Ya, lihat yang ini Ge!” tunjuknya pada sebuah penghapus berbentuk kapal, “Aku suka yang ini karena ada jendela bening di dinding kapalnya. Lucu ya?”

Gea mengiyakan. “Mengoleksi sesuatu bisa membuat kita  merasa terhibur ketika sedih dan yang lebih penting lagi kita dapat belajar untuk lebih bertanggungjawab dengan cara merawat koleksi kita dengan baik,” kata Hanna sambil memasukkan kembali penghapus-penghapus itu dalam kotak.

“Oh ya, kalau kamu punya koleksi apa Ge?” Gea geragapan. Dia ingat kalau dia memiliki beberapa buah perangko Australia dan Indonesia. Dulu dia pernah berencana untuk mengoleksi perangko tetapi karena perangkonya tak juga bertambah maka Gea pun segera melupakan niatnya. Tetapi karena malu pada Hanna maka tiba-tiba saja Gea menjawab, “Aku punya koleksi perangko. Kapan-kapan kutunjukkan padamu.”

Hanna mengangguk senang, “Wah, jelas aku mau melihatnya. Aku selalu kagum pada filatelis. Aku sering heran bagaimana cara mereka mendapatkan perangko-perangko itu.”

Gea bertanya heran, “Filatelis?”

“Orang yang mengoleksi perangko. Namanya filatelis kan?” Hanna kembali menegaskan.

Gea tersipu malu, “E..ehm…iya. Itu aku berarti ya?” tunjuknya pada hidungnya sendiri. Hanna tertawa geli.

Gea sudah melupakan janjinya untuk menunjukkan koleksi perangkonya pada Hanna ketika pada hari Sabtu siang sepulang sekolah Hanna tiba-tiba bertanya, “Mana koleksi perangkomu? Aku ingin sekali melihatnya.”

Gea hanya menjawab sekedarnya, “Ya, ya, tentu. Besok akan kubawa.”

Hanna tersenyum senang, “Koleksi penghapusku bertambah dua lagi kemarin. Ada lima ratus dua puluh tiga sekarang,” katanya bangga.

“Besok Senin kutunjukkan koleksi perangkoku,” kata Gea tak ingin kalah. Ah, paling tidak masih ada waktu dua hari lagi, batinnya.

Sampai di rumah Gea segera membongkar laci mejanya. Rasanya perangko-perangko itu ada disana. Terselip di suatu tempat. Setelah hampir semua benda di laci dikeluarkan Gea akhirnya menemukan perangko-perangko itu. Masih utuh terselip di dalam buku tulis lamanya. Buru-buru ditatanya perangko-perangko itu di dalam sebuah album perangko yang dulu sempat dibelinya. Ternyata setelah ditata,  perangkonya hanya bisa memenuhi satu lembar album. “Ini sih tidak bisa disebut koleksi,” gumamnya kecewa, “Lalu aku harus bilang apa pada Hanna?”

Gea tiba-tiba merasa kesal. “Wah, anak Ibu rajin sekali mengoleksi perangko. Kalau Om Nul tahu dia pasti akan senang sekali melihat keponakannya punya hobi sama seperti dia.” Ibu berdiri di depan pintu kamar Gea. Om Nul yang dimaksud adalah adik Bapak yang kuliah di Semarang.

Gea bertanya dengan antusias, “Om Nul koleksi perangko juga Bu?”

Ibu mengangguk, “Iya, bahkan album perangkonya disimpan rapi di lemari di rumah Eyang.”

Gea mengangguk-angguk. Setelah Ibu pergi, Gea segera bergegas mengeluarkan sepeda dan mengayuhnya cepat-cepat menuju rumah Eyang yang hanya 1 km dari rumahnya.

Benar kata Ibu. Koleksi  perangko Om Nul memang sangat banyak. Dia memutuskan untuk meminjamnya. Om Nul toh tak akan tahu. Diambilnya beberapa perangko tua bergambar Presiden Sukarno dan berpuluh-puluh perangko dari luar negeri. Turki, USA, Iran, Zimbabwe, New Zealand, Belanda. Setelah cukup banyak dia berpamitan pada Eyang.

“Tidak menginap Ge? Ini kan hari Sabtu.” Eyangnya menegur.

Gea menggeleng, “Kapan-kapan ya Eyang.”

Gea membuka album perangkonya. “Wah, hebat sekali perangko-perangkomu”.

Hanna berdecak kagum. “Berapa lama kamu mengumpulkan perangko-perangko ini?”

Gea menjawab agak kikuk, “Yah, tak terlalu lama.”

“Luar biasa. Dalam waktu tak terlalu lama kamu bisa mendapatkan perangko-perangko bagus dari luar negeri. Bagaimana caranya?” Hanna terus bertanya dengan antusias.

Gea baru berpikir bagaimana akan menjawab pertanyaan Hanna ketika tiba-tiba Diko yang sedang memegang es krim tersandung kakinya dan plop! Es krimnya jatuh tepat di perangko Gea. Tepatnya perangko Om Nul. Gea menjerit. Tangannya buru-buru membersihkan noda cokelat di albumnya. “Maaf”, ujar Diko, “Tetapi aku tersandung kakimu tadi”.

Gea berusaha membersihkan perangko-perangko itu dengan dibantu Hanna yang dengan teliti membasuhnya dengan air dan meletakkannya diatas tissu agar kering. Gea tercenung memandang cara Hanna yang terampil dan cermat memperlakukan koleksi milik orang lain. “Rasanya aku memang belum cocok memiliki koleksi apapun,” katanya lirih.

“Jangan berkata begitu. Perangko ini tak terlalu rusak kok. Jangan sedih ya,” hibur Hanna.

Gea menggeleng, “Maafkan aku Han, aku telah membohongimu. Ini semua bukan perangkoku. Aku hanya meminjamnya dari Om ku. Bahkan aku tak meminta ijin padanya. Aku hanya tak mau kalah darimu.” Mata Gea berkaca-kaca.

Hanna tak berkata apa-apa. Dia benar-benar tak tahu harus berkata apa.

 

(dimuat di Halo Ananda online)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s