Bubuk Kekacauan Untuk Peri Lusi

Peri Kila menjerit saat dia bangun pagi-pagi dan mendapati seluruh jamur yang harus disiramnya dengan warna putih berubah warna menjadi hitam dan mengeluarkan bau busuk. “Apa yang terjadi dengan jamur-jamurku?” sambil menangis Peri Kila membelai salah satu jamur yang menghitam. Air matanya menetes deras, “Padahal jamur-jamur ini akan dimasak untuk Peri Miyu yang baru pindah ke rumah barunya.”

Dari balik pepohonan Peri Lusi yang terkenal usil tertawa perlahan dan kembali terbang menyelinap setelah Peri Kila mulai menangis.

Pada saat lain Peri Nugi membuang-buang potongan kayu dengan kesal ke dalam tungku perapian.

“Lihatlah!” tunjuknya pada Peri Jian yang hanya bisa melongo melihat potongan kayu yang tadinya tempat tidur indah itu dilempar begitu saja seperti kayu bakar. “Susah payah aku membuat tempat tidur pesanan Ratu Peri dan tiba-tiba ada yang mengubah tempat tidur itu menjadi rumah rayap! Aku tak dapat membayangkan bagaimana marahnya Ratu Peri kepadaku jika aku tak dapat membawa pesanannya tepat waktu.”

Dari balik bebatuan Peri Lusi yang usil terkikik geli dan terbang menjauh begitu kayu terakhir telah dilempar oleh Peri Nugi ke dalam api.

Peri Lusi memang peri paling usil di seluruh negeri peri. Sesungguhnya banyak yang mencurigai bahwa Peri Lusilah yang membuat banyak kekacauan di negeri ini. Tetapi Peri Lusi sungguh sangat pintar berkelit. Pernah suatu ketika dia mengolesi hidung patung Ratu Peri di depan taman dengan getah pohon karet sehingga patung Ratu Peri tampak seperti sedang menderita pilek. Ratu Peri yang sangat marah menyuruh Peri Aman untuk menangkap Peri Lusi yang sempat dilihat oleh beberapa peri berkelebat di sekitar tempat itu. Tetapi saat Peri Aman mendatangi rumahnya, dia mengaku hanya bermain-main bersama Tobi Pohon Tua sepanjang hari dan sama sekali tak pergi ke taman. Peri Aman pun bertanya pada Tobi Tua apakah benar Peri Lusi bermain bersamanya dan Tobi Tua mengiyakan. Peri Aman pun pulang sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung. Saat itu pula Peri Lusi terkekeh-kekeh geli sambil mengelus-elus boneka kapas yang menyerupai dirinya yang sepanjang hari tadi diletakkannya di samping Tobi Tua. Pohon itu telah mulai rabun dan tak mungkin bisa membedakan Peri Lusi sungguhan dengan boneka kapas.

Begitulah, keusilan Peri Lusi telah sangat mengganggu penduduk negeri peri. Tetapi selama ini tak ada yang bisa menuduhnya terang-terangan karena ulahnya tak pernah dapat dibuktikan.

Ratu Peri sudah lelah menghadapi keluhan dari seluruh penduduk negeri peri yang meminta Ratu menangkap si pembuat onar dan menghukumnya sesuai dengan kesalahannya. Akhirnya Ratu Peri memutuskan untuk meminta bantuan pada Olin penyihir bijak.

“Kami tidak pernah bisa membuktikan bahwa Peri Lusilah yang membuat semua kekacauan di negeri peri,” keluh Ratu Peri pada Olin penyihir.

“Begitu? Pintar sekali dia,” gumam Olin. Dia mengerutkan dahinya karena berpikir keras.

“Aaa,” wajah Olin tiba-tiba cerah. “Aku akan meminta angin meniupkan serbuk ini ke seluruh negeri peri. Dan si pembuat kekacauan akan muncul sendiri di hadapan Ratu,” janjinya.

“Serbuk apakah itu?” tanya Ratu ingin tahu memandang bubuk bening berwarna keperakan itu.

Olin menyeringai. “Namanya adalah Bubuk Kekacauan. Hanya yang tak pernah mengacau saja yang bisa terpengaruh oleh bubuk ini.”

Ratu Peri tersenyum geli ketika menyadari maksud Olin yang sebenarnya.

Malam itu Ratu Peri menutup jendela kamarnya rapat-rapat agar Bubuk Kekacauan tak mempengaruhinya.

Pagi itu Bubuk Kekacauan mulai bekerja. Bubuk Kekacauan membuat semua yang terkena menjadi senang mengacau dan menganggap bahwa kenakalannya adalah hal yang biasa. Tetapi bagi yang telah terbiasa berbuat usil Bubuk Kekacauan tak lagi punya pengaruh apa-apa. Maka hari ini di seluruh negeri peri kekacauan menjadi hal yang sangat mudah ditemui karena semua melakukannya. Peri Jian yang biasanya pendiam tiba-tiba meniup terompet keras-keras di telinga Peri Nugi hingga telinganya ketakutan dan terbang. Bukannya marah tapi Peri Nugi justru tertawa terbahak-bahak dan membalas Peri Jian dengan melemparinya puluhan buah apel. Apel-apel itu melesat ke arah Peri Jian yang menghindari serangan sehingga apel-apel itu menimpa kepala Peri Lusi yang sedang termenung memikirkan keusilan apa yang akan dilakukannya hari ini. Peri Lusi menjerit kesakitan tertimpa puluhan buah apel dan lari masuk ke dalam rumah.

Peri Lusi sejenak merasa aman dari serbuan apel-apel ketika tiba-tiba atap rumahnya terbakar oleh kembang api yang sepertinya sengaja mendarat di sana. Peri Lusi berteriak ketakutan tetapi terlambat, api telah memercik membakar rambutnya. Selintas dia mendengar tawa Peri Kila dan teman-temannya. Peri Lusi lari terbirit-birit sambil meraih poci teh yang disiramkannya di atas kepalanya.

“Aku harus mengadukan ini pada Ratu Peri,” jeritnya marah, “ini sudah keterlaluan!” Peri Lusi pun bergegas pergi. Malang dia tersandung akar Tobi Pohon Tua yang menjulur keluar. Tobi Tua tertawa geli melihat Peri Lusi tersungkur.

“Ini tidak lucu Tobi!” hardiknya. “Aku tak sengaja, Lusi, mataku telah rabun,” jawab Tobi Tua berkilah.

Dengan kesal Peri Lusi terbang melewati taman bermaksud mencari jalan pintas ke istana Ratu Peri. Tetapi kemalangan lain menimpanya. Patung Ratu Peri yang kesal pada Lusi tiba-tiba melempar getah yang ditempelkan di hidungnya saat Peri Lusi lewat di depannya. Getah lengket itu menempel di wajah Peri Lusi dan membuatnya tak bisa melihat apapun. Peri Lusi menabrak Patung Ratu Peri dan patung besar itu jatuh menimpanya. Peri Lusi menangis tersedu-sedu karena kesal dan kesakitan.

Sesampainya di istana Ratu Peri, diadukannya semua kemalangannya pada Ratu Peri yang mendengarkannya dengan tekun. “Sebenarnya mereka semua hanya menirukan perbuatanmu bahkan patung itu juga. Bukankah getah yang dilempar padamu juga getah yang kau lekatkan di hidungnya?” Ratu Peri memandangnya dengan tajam.

Peri Lusi sangat kaget dan malu mendengarnya. Dia baru sadar bahwa setiap keusilan yang dia lakukan ternyata menimbulkan kekacauan yang lebih besar. Peri Lusi pun menyesali perbuatannya dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Tetapi Ratu Peri tetap memberinya hukuman. Peri Lusi diwajibkan memperbaiki semua kekacauan yang terlanjur dibuatnya.

 

 (dimuat di Majalah Bobo)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s